Liburan ke pulau biawak

Kamu Akan Membaca

Liburan ke pulau biawak

 

Pulau biawak adalah salah satu tempat wisata yang ada di indramayu. Namun pulau biawak berada di tengah tengah laut.

Akses menuju kesana pun saangat jaauh dan sangat melelahkan. Apalagi harus menyewa perahu untuk sampai disanan.

Biaya yang mahaal yang harus di keluaarkan untuk menyewa perahu. Waktu tempuh dari darrat hingga sampai ke pulau biawak membutuhkan 5-7 jam perjalanan dengan perahu.

Banyak orang yang menyewakan jasa perahunya jika Anda ingin pergi berlibur ke sana. Namun, waaktunya harus tepat.

karena jika waktunya tidak tepat bisa jadi di laut nanti ada badai ombak besar. Biasanya jika Anda ingin kesana harus memilih hari bertepatan dengan teduhnya cuaca laut.

Pernah saya pergi kesana namun dengan kondisi laut yang tidak bersahabat. Dan waktu itu saya menggunakan perahu yang kecil.

Awal-awal masih di pinggir pantai air laut masih tidak berombak dan angin pun tidak besar. Tidak tahunya di araam menuju tengah laut terlihat ombak yang sangat besar.

Sampai-sampai perahu saya pun terbawa ombang ambing ombak laut yang terus menerjang badan kaapal. Rasa gelisah yang membenak di hati seakan ingin menarik saya untuk balik lagi.

Karena sudah di tengah laut dan jarak pun sudah jauh tidak mungkin untuk memutar arah.

Semangat pagi

Jam 5 sore saya dan teman teman berkumpul di rumah saya untuk mendiskusikan acara liburan ke pulau biawak. Kami semua setuju untuk berangkat besok paginya.

Kami pun mengumpulkan perlengkapan yang kami butuhkan untuk disana seperti air galon, beras, panci, kompor dan yang lainya.

Setelah semuanya terkumpul kami pun memutuskan untuk menginap di rumah saya agar pagi-pagi bisa langsung berangkat.

Dengan rumah yang ala kadarnya teman-teman saya tidur di lantai yang beralaskan tanah dengan di lapisi oleh sebuah kelasa.

Ya maklumlah namanya juga saya bukan orang kaya, kami pun langsung tidur untuk persiapan besok pagi agar tidak kesiangan.

Kamipun bangun waktu shubuh dan langsung pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat. Setelah dari masjid kami langsung membenahi barang-barang kami yang akan dibawa untuk di taruh di motor.

Tidak buang waktu lama kami langsung berangkat dari rumah dan mencari makan untuk sarapan dan bekal di perjalanan.

Dengan rasa semangat kami pun berjalan dengan mengendarai sepeda motor. Jalan demi jalan kami lewati dengan penuh rasa tak sabar.

Akhirnya perjalananpun kian sudah jauh, dan kami menuju jalan ke emppang untuk langsung ke perahu. Sementara itu seppeda motor yang kami gunakan akan di taruh di gubug empang.

Perjalanan pun telah sampai di empang, kami langsung menuju perahu yang akan kami naiki. Oh ya, kami menggunakan perahu saya sendiri.

Dengan ukuran yang sedang perahu tersebut mampu menampung 8 orang penumpang

Pagi hari yang cerah menghantarkan kami dengan semangat yang membara dan sudah tidak sabar untuk sampai di sana.

Berangkat dari darat

Kami pun langsung menaiki perahu dan langsung memanasi mesin perahu. Dan kemudian kami langsung bergegas untuk berangkat.

Sinar matahari semakin menyengat kulit, namun kami hiraukan rasa panas itu. Perbincangan kami di atas perahu pun sudah mulai membahas bagaimana pemandangan di sana.

Kami melewati sungai yang cukup panjang akhirnya, akhirnya kami sampai juga di muara laut. Begitu senangnya kami merasakan pemandangan laut yang sangat indah.

 

Di terjang ombak

Sembari berjalannya perahu kami memutuskan untuk memancing ikan tuna dengan cara tidak memakai umpan. Dan hasilnya pun cukup lumayan banyak, kami mendapat satu peti ikan tuna.

Rasa semangat kami tiba-tiba hilang dengan seketika saat melihat ombak yang begitu bbesar menghadang di depan mata.

Besarnya tarikan ombak yang menghalau jalan perahu kami, Seakan mampu membalikan perahu dan menenggelamkannya. Akhirnya sang supir perahu memutuskan untuk melaju mengikuti alur ombak.

Doa demi doa kami panjatkan kepada Tuhan yang maha kuasa agar di lindungi sampai tujuan. Tidak sedikit dari kami yang muntah akibat mabuk laut, ya termasuk saya sendiri.

Bahkan ada dari kami mengeluh ingin pulang lagi, karena sudah nanggung ya sudah akhirnya kami teruskan saja perjalanan tersebut.

Ada juga yang berkata “saya menyerah, saya sudah tidak kuat lagi ampun”. Kata salah satu teman saya.

Banyak dari kami yang menertawakanya seolah menjadi bahan hiburan. Hahaha

Perjalanan pun terus berlanjut, rasa ngantuk pun mulai terasa. Sebagian dari kami pun tertidur pulas. Bahkan ada yang tidur karena rasa takut perahu terbalik.

Kami pun pasrah saja dengan ombak yang besar. Dan perahu yang sering kali akan terbalik.

Tak terasa perjalanan sudah 4 jam dan monas pulau biawak pun sudah mulai kelihatan. Akhirnya rasa semangat kami pun bangkit kembali.

Dengan perasaan yang ceria menantikan sampainya perjalanan. Ternyata masih jauh sekali, dengan perahu yang berjalan pelan kira-kira 2 jam lagi sampai.

Di Pulau Biawak

Tak sadar karena kami semua terlelap tidur. Akhirnya sampai juga ke pulau biawak indramayu. Rasa senang yang menyelimuti hati membuat kami saling tersenyum.

Melihat pemandangan disana yang luar biasa indahnya kami tak sabar untuk turun dari peraahu. Kami pun langsung turun di pinggir pantai .

Mata pun langsung tertuju kearah pintu gerbang masuk. Melihat pemandangan yang indah dan melihat banyaknya biawak disana.

Biawak di sana mempunyai tubuh yang sangat besar sekali beda dengan biawak yanng ada di daratan. Terbesit dalam hati ko ada biawak di tengah-tengah laut.

Kami pun langsung membuat api untuk membakar ikan hasil pancingan yang kami dapat kan di tengah perjalanan.

Tidak lama kemudian ntah karena bau amis dari ikan tuna, banyak biiawak yang keluar dari sarangnya dan menghampiri kami.

Tapi biawak disana sedikit baik asal tidak di ganggu. Kalau kita ganggu maka dia akan mengibaskan ekornya untuk melindungi diri.

Akhirnya kami memberikan sedikit ikan kepada biawakk tersebut. setelah ikan sudah matang kami langsung menyantap di pinnggir laut.

Sembari merasakan angin laut yang sejuk di pinggir pantai. Setelah makan kami pun langsung memancing ikan karaang untuk tambahan makan malam.

Waktu pun berlalu hari sudah semakin sore, matahari yang panas berubah menjadi udara yang dingin. Kami berdiam di jembatan tempat kami turun dari perahu.

Kami pun bermalam di jembatan tersebut. meski di dalam pulau ada penginapan, karena minimnya uang kami pun dengan terpaksa harus tidur tergeletak.

Mancing malam

Udara yang sangat dingin membuat kami ingin sekali tidur berselimutkan sarung. Tapi karena rasa semangat kami pun bersepakat untuk memancing ikan karang.

Sambaran ikan sudah di mulai berawal dari teman saya yang mendapatkan seekor ikan karang kecil. Kemudian teman-teman yang lainnya pun mendapatkan sambaran ikan juga.

Keseruan pun berlangsung pada kami, adakalanya pancing salah satu dari teman saya tersangkut pada ikan pari. Di kira tersangkut pada batu, tapi ternyata tersangkut pada ikan.

Karena kami tidak mau ikan pari itu sampai lepas akhirnya pelan-pelan kami tarik. Namun sangat di sayangkan, ikan pari pun terlepas.

Seling beberapa waktu ikan yang kami pancing tidak terlalu banyak, akhirnya saya sudahi saja. Dan kami langsung bersiap untuk tidur.

Keesokan harinya

Tak terasa malam berganti sinar pagi yang indah. Melihat terbitnya matahari dari pulau biawak membuat kami takjub akan ciptaan Tuhan.

Rasa lapar di perut kami membuat kami ingin memakan sesuatu. Akhirnya kami pun langsung membuat api untuk memasak nasi dan membakar ikan hasil pancingan.

Proses pembakaran ikan pun berlangsung. Namun, tidak sempurna jika ke pulau biawak tidak meminum kelapa. Akhirnya saya langsung memanjat kelapa namun sayang pohon kelapa di sana panjang-panjang.

Bahkan ada dari kami yang memanjat sudah sampai atas pohon kelapa. Namun kelapa tersebut tidak mempunyai buah. Pagi itu penuh dengan canda dan tawa menertawakan teman saya ini.

Akhirnya saya langsung mencoba memanjat pohon kelapa lagi. Dengan susah payah memanjat namun hasil tidak jauh dari usaha.

Saya mendapat tiga biji kelapa, dan saya pun langsung turun. Lalu mengupas kelapa tersebut.

Sembar makan nasi di tambah minumnya air kelapa murni membuat rasa yang lezat yang kami rasakan. Ya maklumlah namanya juga orang lapar wkwkwk…

Setelah makan kami pun memutuskan untuk memancing ikan karang lagi. Kamu pun bergegas ke perahu dan langsung menuju sport yang banyak ikannya.

Menit demi menit berlalu akhirnya ikan terkumpul banyak. di saat mancing ikan ada teman kami yang muntah karena mabuk laut. Namun suara muntahnya membuat kami tertawa terbahak-bahak.

Suaranya mirip seperti kambing jawa yang memiliki kuping panjang. Ikan pun sudah banyak akhirnya kami pulang.

Komentar