Menjadi santri itu indah dan menyenangkan

Kamu Akan Membaca

Menjadi santri itu indah dan menyenangkan

 

Indahnya Menjadi Santri adalah artikel saya yang kelima untuk memenuhi tugas belajar membuat website. untuk pengalaman saya yang lain bisa di baca di sini.

Santri itu istemewa gan bahkan sampai pemerintah membuatkan hari santri sedunia. mantap dah..

Selamat pagi kawan, bagaimana kabar kalian pasti baik-baik saja toh. Oke kali ini saya akan membagikan pengalaman saya “indahnya menjadi santri” setelah saya lulus dari sekolah dasar. Ternyata menjadi santri itu enak loh, tapi ada ngga enaknya juga sih.

Tapi bagi kalian yang ingin sekolah atau ingin mondok di pesantren saya memberi saran agar cepat daftar deh dari pada sekolah di sekolahan umum. Bagi saya menjadi santri itu hal yang tidak bisa lepas dalam diri saya.

Meskipun sekarang sudah menjadi mantan santri tapi masyarakat tetap menilai bahwa kita adalah santri. Menjadi santri itu penuh kebahagiaan kok tapi juga banyak sedihnya haha. Ya maklum lah namanya juga hidup mandiri gan.

Justru kita harus belajar mandiri gan, ya salah satunya bisa dari pesantren juga. Menjadi santri itu kita mempunyai banyak teman kita mempunyai besik agama gan. Bukan hanya itu di pondok pesantren juga kita di ajarkan kebersamaan. Artinya kita di ajarkan kekompakan gan.

Inilah kisah saya indahnya menjadi santri. Cekidot….

Pendaftaran

Kita mulai dari pendaaftaaraan dulu ya gan.

Ketika saya sudah lulus sekolah dasar saya di daftarkan oleh paman saya untuk melanjutkan sekolah ke pesantren. Ya dari pada saya ngga sekolah ya sudah saya akhirnya mau di daftarkan.

Akhirnya saya pun laangsung menuju pesantren untuk mendaftarkan diri. Setelah sampai di pesantren saya merasa bingung akan pilihan saya, Tapi saya teguhkan untuk menuntut ilmu agama. Dan saya pun di wawancarai saat itu tapi berhubung saaya tidak mengerti akhirnya saya jawab apa adanya saja.\

Alhamdulillah akhirnya saya di terima juga. Padahal sudah ngarep banget ngga di terima dengan alasan saya ingin sekolah di umum saja. Tapi berhubung saya tidak punya biaya akhirnya saya mengikuti alur takdir saja.

Didalam hati saya berkata “Ya sudahlah mungkin ini sudah yang terbaik untuk saya”.

Saya daftar di pesantren yatim yang khusus untuk anak-anak yatim yang ingin sekolah namun tidak punya biaya. Di pesantren ini semua fasilitas sudah di cukupi oleh lembaga.

Setelah pendaftaran pun akhirnya saya pulang lagi ke rumah paman, setelah sampai rumah paman saya langsung mempersiapkan persyaratan yang dibutuhkan untuk pendaftaran.

Datang  Kepesantren

Satu minggu telah berlalu, saya menginap di rumah paman menjadi hari terakhir saat itu. Akhirnya dengan perlengkapan yang sudah ada saya berangkat, Saya di bonceng di belakang sepeda motor sambil membawa kardus yang berisi baju dan celana.

Karena pesantren dengan rumah paman tidak terlalu jauh, untuk sampai ke pesantren tidak memerlukan waktu yang lama. Namun saya belum mengenal wilayah saat itu, ya maklum lah namanya orang kampung pergi ke kota ya pasti kebingungan.

Tak lama kemudian sampailah di depan pesantren dan kemudian masuk untuk memarkirkan motor lebih dulu. Setelah itu saya langsung ke kantor penerimaan santri baru, saya pun duduk dan terdiam.

Haya paman dan petugas kantor yang berbincang. Setelah berbingcang akhirnya saya pun di ajak bicara oleh petugas kantornya.

“Kamu benar mau belajar di sini” tanya nya.

“iya pak” jawab saya.

Di Pesantren

Setelah perbincangan selesai akhirnya saya di titipkan di pesantren tersebut oleh paman saya. Hal yang membuat saya sedih ketika itu saya merasa sendirian lagi kalau paman saya sudah pulang.

Akhirnya paman saya berpamitan dan saya di tinggal sendirian, waktu itu saya merasa ingin pulang. Namun sayang saya tidak tahu jalan. Dan kemudian saya di suruh masuk kedalam oleh petugas kantor.

Saya pun langsung di antar petugas memasuki halaman dalam pesantren, dari jauh terlihat lah beberapa santri yang sedang duduk di kursi teras. Saya di sambut baik oleh mereka, Namun karena baru pertama dan saya tidak kenal siapa-siapa akhirnya saya pun selalu sendirian.

Dan kemudian saya di antar ke kamar, setelah di kamar saya duduk-duduk saja. Karena bingung mau apa jadi saya cangguh dan diam saja. Rasa tidak betah mulai membenak di dalam hati.

Pernah sesekali saya menangis ingin pulang. Tapi tidak ada yang bisa di hubungi.

Tak terasa waktu sudah sore akhirnya saya mandi dan siap-siap untuk ke masjid. Setelah mandi saya pun langsung menuju masjid. Lagi-lagi saya selalu sendirian.

Perkenalan santri

Waktu magrib pun datang kemudian saya ikut sholat magrib, dan setelah sholat para santri di kumpulkan. Kami pun di suruh untuk memperkenalkan diri, waktu itu saya sangat malu dan tidah berani. Namun karena di paksa akhirnya saya memberanikan diri untuk memperkenalkan nama saya.

Saya pun saling bersalaman dengan teman-teman yang baru daftar dan yang sudah lama. Akhirnya dengan perkenalan itu hilanglah sedikit rasa ke ingin pulangan saya.

Kami pun saling sapa dan tertawa bersama, seperti sudah lama berkenalan. Waktu isya pun telah datang dan saya langsung menunaikan sholat isya.

Makan Bersama

Setelah sholat isya saya pun di suruh makan bersama santri yang lain. yang membuat istimewa adalah satu nampan di suguhi dengan masing-masing empat orang per nampan. Ketika itu saya kaget juga, tapi setelah di jalanin ternyata makan beramai-ramai itu sangat nikmat sekali.

Dengan porsi yang banyak didalam nampan cukuplah untuk makan empat orang. perut pun terasa kenyang, setelah makan selesai kemudian nampan pun di cuci masing-masing. setelah makan kemudian semua santri berkumpul untuk belajar. saya pun ikut nimbrung dengan mereka. Di pesantren ini ternyata para santrinya saling peduli dengan yang lain. ketika mempunyai makanan maka akan di bagi-bagikan.

Banyak santri baru yang membawa banyak makanan dari kampungnya, Namun saya hanya tersipu sedih. Saya tidak membawa apa-apa. Mereka membagikan makanannya dengan santri baru dan santri lama. Saya merasa bahwa di pesantren ini adalah keluarga.

Dan mulai saat itulah saya mulai betah tinggal di pesantren, Saya pun sangat senang saat itu. perasaan sedih yang ada di hati berganti kegembiraan yang tiada tara. Setelah makan cemilan kemudian kami pun tidur malam bersama-sama. dengan beralaskan kasur yang empuk yang di berikan pesantren secara gratis.

Bangun jam pagi

Tidak terasa waktu sudah jam empat pagi perasaan baru saja saya tidur, rasa ngantuk pun masih mengendap di dalam mata. Saya di bangunkan oleh ustad pesantren, Dan saya pun langsung pergi ke kamar mandi, namun karena mata masih ngantuk akhirnya saya tidur lagi di tangga sebelah kamar mandi. akhirnya saya pun di bangunkan kembali untuk berwudu dan segera ke masjid.

saya pun berwudu dan langsung menuju ke masjid untuk sholat subuh.

Main Bola

Karena sekalah belum masuk, Keesokan harinya saya dan teman teman bermain bola di lapangan sport center. kami berangkat setelah ba’da subuh sekitar jam enam pagi kami berangkat, karena jarak nya juga tidak jauh dari pesantren. kami berangkat hanya dengan berjalan kaki.

Mmmm… Segitu dulu ya gan ceritanya nanti di lanjut lagi deh, laanjutanya baca di sini gan

Komentar